PMII UNILA : Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh: Esai
Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

5 Apr 2018

Sambut Hari Kartini, Kopri Rayon Hukum Gelar Perlombaan Miss Kartini 2018


Bandarlampung. Dalam rangka menyambut hari kartini tanggal 21 April yang akan datang,  Kopri (Korp PMII Putri)  Rayon Hukum Universitas Lampung Gelar Perlombaan Miss Kartini 2018.

Ketua Kopri PMII Rayon Hukum,  Dewi Sukma menjelaskan tujuan menggelar kegiatan ini untuk meningkatkan kreatifitas serta inovatifitas kader perempuan.

"Tujuan kegitan ini untuk meningkatkan kreatifitas serta inovatifitas kader perempuan pergerakan untuk turut serta memiliki jiwa kompetitif dan mampu berdaya saing" ungkapnya

Selain Perlombaan Miss kartini 2018, Kopri PMII Rayon Hukum akan menggelar Lomba Menulis Artikel yang bisa di ikuti oleh seluruh kader PMII se-Indonesia , Photo Contest untuk seluruh kader PMII dengan syarat Men-"Tag" IG Officials Kopri Rayon Hukum di @Koprirayonhukumunila.

Pendaftaran Lomba dibuka sejak 1 sampai dengan 21 April Mendatang.  (RFZ)

8 Dec 2015

Pentingnya Dukungan Psikososiospiritual, Manajemen Terapi Nutrisi dan Higienitas Lingkungan Untuk Penderita AIDS

Pentingnya Dukungan Psikososiospiritual, Manajemen Terapi Nutrisi dan Higienitas Lingkungan Untuk Penderita AIDS

Juara 3 National Essay Competition Online PMII Unila
Annisa Bunga Nefara


Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit menular seksual yang hingga saat ini belum ditemukan terapi yang dapat menyembuhkannya. Terapi medis hanya dapat menunda terjadinya komplikasi dan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sel-sel imunitas dalam tubuh manusia. Gejala-gejala AIDS bukan disebabkan oleh virus itu sendiri, melainkan karena ketidakmampuan sistem imunitas tubuh untuk berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga penderita AIDS mudah terkena infeksi di seluruh bagian tubuhnya. 

AIDS masih tetap menjadi masalah di seluruh dunia, tidak hanya di indonesia. Di indonesia sendiri, angka kasus AIDS terbanyak ada di pulau jawa , dan angka kasus AIDS di Indonesia ini selalu meningkat selama 4 tahun ini, dengan laporan terakhir pada tahun 2014 terdapat 32.711 kasus. Banyak sekali faktor resiko terjangkitnya HIV yaitu biseksual, homoseksual, perinatal, transfusi darah, dan 81% faktor risiko yterjangkitnya HIV adalah heteroseksual. Berdasarkan Ditjen PP&PL., Kemenkes RI 2015, angka terbanyak penderita AIDS terletak pada kelompok usia dewasa muda yaitu 20-29 tahun sebanyak 32,2%. usia-usia inilah dimana kondisi psikis seseorang masih cenderung labil, dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Jenis kelamin penderita AIDS terbanyak adalah laki-laki yaitu 61,6%. 

Permasalahan yang diakibatkan oleh AIDS sejatinya tidak hanya dari sisi medis. Ada permasalahan pada penderita AIDS yang justru memberi dampak lebih parah dan tidak ada obatnya sama sekali yaitu kondisi psikologis penderita dan sikap sosial terhadap penderita. Pada penelitian yang dilakukan oleh Yunie Armiyati, et all, pada tahun 2015, Seorang wanita wiraswasta berusia 44 tahun  penderita AIDS menyatakan bahwa di kalangan masyarakat penyakit AIDS di anggap penyakit yang kotor, sehingga banyak pengidap AIDS yang diberi label “nakal”, penderita takut dicemooh dan dijauhi, padahal tidak semua penderita AIDS adalah penggila seks bebas atau narkoba. AIDS dapat ditularkan dengan mudah melalui cairan tubuh, disadari, maupun tidak disadari. Penderita juga semakin stress psikologisnya begitu mengetahui bahwa ia menderita penyakit AIDS. Karena penyakit ini tidak bisa sembuh, dan khawatir akan sikap masyarakat terhadapnya. 

Dalam menghadapi kasus AIDS ini sangat dipengaurhi oleh peran keluarga dan pemuda. Penulis mengemukakan bahwa ada beberapa hal penting yang merupakan peran keluarga dan pemuda dalam kasus AIDS, terbagi menjadi dua, yaitu pencegahan angka kasus AIDS dan merawat anggota keluarga yang menderita AIDS. Pencegahan angka kasus AIDS seperti yang pertama Edukasi tentang seks dan penyakit menular seksual, dan yang kedua penanaman moral etika dan karakter pada anak. Kemudian merawat anggota keluarga yang menderita AIDS meliputi dukungan secara psikososiospiritual, manajemen terapi nutrisi, dan higienitas lingkungan tempat tinggal.

Lingkungan keluarga adalah tempat pendidikan pertama dalam penanaman karakter dan moral. Seorang penyair Mesir, Hafidh Ibrahim, menyebutkan bahwa ibu adalah madrasah yang pertama bagi anak. Apabila lingkungan keluarga, khususnya orang tua dapat membangun keluarga yang sehat dan harmonis, maka jumlah penderita AIDS akan berkurang. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam keluarga seperti membangun rasa saling percaya, keterbukaan. Orang tua harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, secara moral dan agama, juga ilmu tentang seks. Orang tua tidak bisa hanya mengandalkan sekolah untuk mengajarkan pelajaran agama dan ilmu tentang seks. Kebanyakan orang tua memang tidak tahu bagaimana cara memberikan pendidikan seks usia dini, tetapi pendidikan seks itu bisa di berikan dengan mudah sesuai dengan usia anaknya. Seperti, anak kelas SD di beri pendidikan tentang mengenali jenis kelaminnya, dan erbedaan antara perempuan dan laki-laki. Kemudian saat menginjak SMP, anak diberi edukasi menganai proses pubertas dan proses reproduksi. Bagaimana proses mimpi basah dan haid, bagaimana proses pembuahan dan kehamilan. Kemudian saat anak menginjak pendidikan SMA, anak mulai diajak berbincang mengenai hal-hal yang terjadi sekarang ini, yang berhubungan dengan seksual. Mulai dari kasus perkosaan, pelecehan seksual, seks bebas, penyakit menular seksual, dan akibat-akibat yang di timbulkannya. Pendidikan tentang seks memang harus dilakukan secara bertahap karena hal ini disesuaikan dengan kondisi psikologis anak. Bila ada SD di beri informasi tentang kejahatan seksual, dia bisa merasa takut terhadap lawan jenis. Apabila dia di beritahu tentang pubertas dan proses reproduksi lebih awal, maka akan merasa penasaran dan berusaha mencari tahu lebih lanjut sendiri. Inilah yang kurang aman. Anak bisa mencari tahu ke orang yang salah, maupun melalui internet yang justru lebih banyak sisi negative disana. Hal yang sama bila anak sudah SMA namun tidak diberi edukasi tentang fakta-fakta yang terjadi sekarang ini oleh orang tua. Penelitian yang dilakukan oleh Karki TB pada tahun 2014 membuktikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pendidikan tentang etika, dan pendidikan tentang AIDS termasuk sikap setia terhadap pasangan, bagaimana transmisinya, dan usia pertama kali melakukan hubungan seks.

Peran orang tua disini tidak hanya pada mengurangi dan melindungi pada pemuda dari penyakit AIDS. Karena tidak semua penderita AIDS mendapatkan penyakitnya dari seks bebas dan narkoba, sehingga tidak semua penderita AIDS mendapatkan penyakit ini karena kesalahannya. Berdasarkan Ditjen PP& PI Kemenkes RI 2014, menurut jenis pekerjaan, penderita AIDS terbanyak berasal dari kalangan ibu rumah tangga, yaitu sebanyak 6.539 orang, diikuti wiraswasta dan tenaga non profesional. Peran keluarga juga sangat besar terhadap penerimaan kepada anggota keluarga yaang menderita AIDS. Seperti yang sudah di kemukaan di awal, ada permasalahan yang lebih besar dari pada sisi medis yaitu masalah psikososiospiritual penderita AIDS. Penelitian yang dilakuakn oleh Mekar Duwi Indah Sari dan Elli Nur Hayati, pada tahun 2015, membuktikan bahwa teradapat beberapa faktor yang mempengaruhi regulasi emosi penderita AIDS, berdasarkan pengakuan penderita AIDS yaitu, yang pertama adalah anak. Anak merupakan motivasi subjek untuk tetap bertahan dan melihat anak tumbuh menjadi dewasa. Motivasi ini kemudian mendorong penderita untuk selalu berfikir positif yang akhirnya membuat kemampuan imunitas penderita relatif stabil. Faktor yang kedua adalah keterbukaan diri. Keterbukaan diri mempengaruhi suport yang didapat dari keluarga maupun sosial. Faktor yang ketiga adalah dukungan sosial. Kita dapat melihat disini bahwa sejatinya faktor yang terpenting dan menduduki peringkat pertama adalah faktor anak, atau keluarga.
Untuk menghadapi kasus AIDS tak terlepas dari bagaimana keluarga merawat penderita AIDS dan membantunya menyelesaikan permasalahannya, terutama masalah psikososiospiritual. Penelitian yang dilakukan oleh Yunie Armiyati, et all, 2015 mengemukakan bahwa ada beberapa cara untuk memanajemen permasalahan psikososiospiritual pada penderita AIDS. Yang pertama adalah manajemen psikologis, yang meliputi dukungan sosial, spiritual, dan adaya wadah untuk konseling. Seorang remaja berusia 27 tahun yang menderita AIDS menyatakan bahwa ia dapat kuat dan bertahan dengan penyakit ini atas dukungan keluarganya.. penderita AIDS lainnya yang merupakan seorang wanita berusia 52 tahun juga mengakui bahwa sejak divonis AIDS beliau merasa lebih kuat secara spiritual, rajin beribadah dan berdoa. Manajeman yang kedua adalah manajemen masalah spiritual. Upaya penderita AIDS dalam penelitian ini meliputi peningkatan partisipasi dalam ibadah, fasilitas pelaksanaan ibadah dan keterlibatan keluarga dalam penyediaan perlengkapan. Manajemen yang ketiga adalah manajemen masalah sosial. Ini adalah yang paling susah dilakukan karena melibatkan keluarga dan juga kelompok. Strategi yang daoat dilakukan pasien agar tetap bersosialisasi dengan baik adalah tidak menceritakan permasalahan sakitnya kepada selain keluarga inti. Seorang remaja penderita AIDS yang berusia 27 tahun menyatakan bahwa ia membatasi pergaulan dengan lawan jenis, namun masih menjaga silaturrahin dengan teman lawan jenis melalui media sosial chatting. 

Peran keluarga terhadap kualitas hidup penderita AIDS tidak hanya dari sisi psikoososiospiritual pasien, tetapi juga dari hal-hal lainnya yang dapat mencetuskan semakin parahnya penyakit AIDS ini. Seperti menyediaan nutrisi yang cukup. Penderita AIDS memiliki sistem imunitas yang kurang baik sehingga berat badannya turun secara drastis, dan sukar merasa fit. Dukungan keluarga melalui penyediaan makanan yang sehat dan bersih sangat membantu pasien untuk merasa sehat. Penelitian oleh Rebecca Peixoto Paes Silva, et all, pada tahun 2015 yang dilakukan dengan sampel 20 anak penderita AIDS membuktikan bahwa fungsi malnutrisi memberikan dampak buruk bagi imunitas anak. Terapi nutrisi menggunakan pritokok WHO untuk 20 anak AIDS ini terbukti meningkatkan mekanisme fungsi fagositosis.

Fungsi  imunitas yang rendah mengakibatkan penderita AIDS mudah terkena infeksi, seperti tinea corporis (tumbuhnya jamur pada tubuh), atau infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia, bahkan debu dapat mencetuskan reaksi kepada penderita AIDS, sehingga higienitas di lingkungan rumah sangatlah penting. Penderita AIDS juga sebaiknya tidak melakukan pekerjaan yang berat yang berpotensi melukai dirinya seperti mengangkat barang yang besar dan berat. Apabila ia tidak kuat lalu jatuh, maka akan ada luka di kulitnya. Luka inilah yang nantinya akan menjadi port de entry untuk kuman, parasit, jamur, virus, dan patogen lainnya. Keluarga juga harus senantiasa mengingatkan pasien akan jadwal check up, jadwal minum obat dan sebagainya. Tetapi yang perlu di ingat adalah anggota keluarga yang merawat harus mengerti bagaimana transmisi atau penula

Menuju BEHA ( Bersih HIV / AIDS ) dalam Membangun Karakter Bangsa

Menuju BEHA ( Bersih HIV / AIDS ) dalam Membangun Karakter Bangsa

Juara 2 National Essay Competition Online PMII Unila
Elmi Mufidah


Saat ini perkembangan globalisasi sudah berkembang cukup besar. Seiring berjalannya waktu, masyarakat telah menjadi manusia yang dewasa dengan kehidupan yang beragam. Adanya perkembangan yang cukup signifikan ini masyarakat tidak hanya mengalami dampak positif namun dampak negatif pula. Salah satu dampak negatif dari perkembangan globalisasi ini adalah adanya HIV / AIDS. HIV (Human Immuno-Deficiency Virus) merupakan suatu virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga penderita mudah terserang penyakit lain. Virus ini menggunakan sel tubuhnya sendiri untuk memproduksi kembali dirinya. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah fase terakhir dari infeksi HIV dan dicirikan oleh CD4 kurang dari 200. Sel CD4 ( jenis sel dari putih ) merupakan unsur penting dalam sistem kekebalan tubuh. Semakin berkembangnya HIV maka sel CD4 akan terus menurun sehingga tidak dapat melindungi tubuh dari penyakit – penyakit. AIDS bukanlah suatu penyakit yang khusus melainkan suatu kumpulan dari sejumlah penyakit yang mempengaruhi tubuh dimana sistem kekebalan menjadi lemah dan tidak dapat merespon dengan baik. 

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan virus ini hingga sembuh. Namun, ada pengobatan terapi Antiretrovirus agar penderita menjalani hidup lebih lama sehingga dapat membuat mereka menjalani hidup dengan normal. Terapi Antiretrovirus adalah terapi yang digunakan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat HIV / AIDS. Obat ini hanya untuk menghambat berkembangnya virus. Walaupun demikian, obat ini tidak mampu membunuh HIV / AIDS secara total, menimbulkan efek samping yang berat dan pemakaiannya harus setiap hari seumur hidup. Jumlah penderita HIV / AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun dan diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang. Jumlah penderita banyak terdapat di kota – kota besar seperti Jakarta. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat mengenai bahayanya HIV / AIDS dan pentingnya akan pencegahan dari terjangkitnya virus. Semua orang dapat terangkit HIV dengan mudah karena virus ini dapat menular dari berbagai macam cara. Pertama, melalui hubungan seksual dengan penderita HIV tanpa adanya perlindungan atau menggunakan kontrasepsi (kondom). Ini kasus yang paling sering menyebabkan banyaknya penderita. Kedua, melalui transfusi darah dari orang yang positif terkena HIV. Ketika menerima transfusi darah dari orang yang positif HIV maka dapat membuat orang tertular. Ketiga, penggunaan jarum suntik yang digunakan secara bergantian seperti penggunaan jarum yang sudah tercemar penyakit HIV. Keempat, ibu hamil yang sudah positif terjangkit HIV, maka janin yang dikandungnya ada resiko terkena penyakit HIV juga. Itulah keempat faktor yang menyebabkan dapat tertularnya HIV / AIDS sangat mudah bukan? Hal yang di anggap cukup sepele dapat membuat seseorang dengan mudah terjangkit HIV/AIDS. Itulah mengapa kita sebagai manusia yang cerdas harus dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. 

Semakin banyaknya penderita HIV / AIDS maka akan berdampak pada rusaknya moral suatu bangsa. Kenyataan yang dapat kita lihat pada saat ini adalah semakin banyak pergaulan bebas yang dapat menjurumuskan seseorang ke jalan yang negatif. Untuk itu dalam mengatasi masalah HIV / AIDS diperlukan beberapa cara dalam upaya menghentikan banyaknya penderita HIV / AIDS. Pertama, diperlukan adanya peran pemuda dalam mengatasi hal ini. Para pemuda adalah calon penerus bangsa, para pemuda berperan penting untuk membangun bangsanya. Berhasil atau tidaknya suatu bangsa terletak di tangan para calon penerus bangsa. Untuk mengatasi HIV / AIDS ini yang harus dilakukan para pemuda adalah terlebih dahulu membekali diri dengan pengetahuan mengenai apa yang menyebabkan HIV / AIDS, apa dampak yang ditimbulkan oleh penyakit itu. Dengan ini pemuda akan lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Setelah membekali diri dengan pengetahuan mengenai virus itu para pemuda wajib bertugas memberikan pengetahuan yang dimilikinya kepada orang yang belum mengetahui akan hal tersebut. Saat ini banyak masyarakat yang kurang mengetahui akan hal ini, padahal ini merupakan masalah yang serius untuk ditangani. Jika tidak dilakukan suatu pencegahan maka akan semakin banyak penderita dan semakin banyak pula kematian yang ditimbulkan oleh virus ini. 

Selain adanya peran pemuda dalam mengatasi hal ini juga diperlukan peran yang sangat penting yaitu peran keluarga. Keluarga adalah media pertama dalam melakukan sosialisasi. Sebelum seseorang dapat bersosialisasi di lingkungan sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan kerja mereka terlebih dahulu bersosialisasi dengan keluarga. Keluarga mempunyai peran yang sangat penting sebagai pembentuk kepribadian, moral seseorang. Akan adanya masalah ini peran orang tua hendaknya memberikan pengetahuan apa hal yang baik dan buruk. Terutama memberikan pengetahuan tentang adanya apa itu HIV / AIDS, bagaimana cara agar terhindar, serta dampak yang ditimbulkan dari virus tersebut. Selain dengan memberikan pengetahuan hendaknya orang tua ikut serta dalam mengawasi apa yang anak lakukan agar anak tidak terjerumus kedalam dunia yang negatif. Semakin banyaknya pergaulan bebas pada kalangan remaja saat ini yang dapat menyebabkan tercemarnya HIV / AIDS. Hal ini dimulai ketika mereka berkumpul menjadi sebuh anggota remaja namun didalamnya terdapat pengaruh – pengaruh yang dapat berdampak mengubah bahkan mempengaruhi seseorang menjadi pribadi yang buruk. Lingkungan bermain dapat mempengaruhi perilaku, kepribadian dan moral seorang anak. Seorang anak terutama pada usia remaja cenderung penasaran mengenai sesuatu hal yang belum diketahui meskipun itu dilarang oleh orang tua. Karena keinginitahuan yang mereka miliki sangatlah besar. Maka dari itu orang tua hendaknya selalu waspada dan membatasi anak dalam bergaul agar tidak terjadi sesuatu dapat menghancurkan kehidupan sang anak selanjutnya. 

Sungguh ironis melihat peristiwa tersebut dengan semakin banyaknya penderita HIV / AIDS dari tahun ke tahun. Adanya kejadian seperti ini sudah saatnya dunia mengatasi agar tidak bertambah banyaknya penderita HIV / AIDS. Maka dari itu disini diperlukan peran para pemuda sebagai penerus bangsa dengan berperan aktif dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Peran keluarga juga sangat dibutuhkan dalam mengatasi mengenai apa yang saat ini banyak terjadi di dunia. Pemuda dan keluarga dapat melakukan dengan cara mencegah segala kemungkinan terjadinya HIV / AIDS yang menyebar di seluruh dunia.  Menciptakan bangsa yang bersih dari HIV / AIDS,  Meningkatkan moral bangsa dengan menjauhi seks bebas, serta meningkatkan iman dan takwa agar selalu terhindar dari jalan yang penuh dengan  kekeliruan. Hal ini sangat diperlukan agar dapat membangun karakter bangsa yang berkualitas. Mempunyai orang – orang yang cerdas dan berkarakter baik. Sekecil apapun usaha yang kita lakukan untuk membawa perubahan menuju bebas HIV / AIDS sangat berarti bagi kehidupan semua orang. Tiada kata terlambat untuk memperbaiki segala kesalahan di masa lalu. Marilah saling bergandeng tangan dengan saudara, teman, dan keluarga agar dapat menjalin kehidupan yang sehat yang berbahagia. 

Orang Tua Mengedukasi, Pemuda Beraksi, HIV dapat Diatasi

Orang Tua Mengedukasi, Pemuda Beraksi, HIV dapat Diatasi

Juara 1 National Essay Competition Online PMII Unila
Rayhan Naufal Ramadhan

AIDS, penyakit yang ditimbulkan oleh virus HIV yang menyerang daya tahan tubuh si penderita. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyakit yang banyak menjangkit para korban. Data 2015 menunjukkan, penderita HIV saat ini kurang lebih 1 juta orang dan kebanyakan penderitanya adalah ibu dan anak-anak baik itu masih bayi atau sudah balita. Dan mirisnya, tiap seratus ribu kelahiran di Indonesia, seratus dua di antaranya terjangkit virus HIV. Inilah fakta yang benar-benar terjadi di Indonesia, virus HIV disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya yaitu tingginya penyalahgunaan obat bius, merajalelanya praktek pelacuran, praktek homoseksualitas, dan perilaku bebas lain yang kurang aman, rendahnya penggunaan kondom, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, donor darah yang tidak melalui uji saring atau diskrining bebas HI, mobilitas penduduk terutama dari desa ke kota, lemahnya pelayanan kesehatan, dan penggunaan narkotika yang pengonsumsiannya menggunakan suntik. Dan dari faktor-faktor tersebut, yang paling memengaruhi terjadinya virus HIV yaitu praktek seks bebas.

Seks bebas kebanyakan dilakukan oleh para pemuda yang lemah imannya akibat kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayanag dari kedua orang tuanya. Dan dalam kasus ini pertanyaannya adalah, dimana peran orang tua untuk mendidik anaknya menuju jalan yang benar? Orang tua seharusnya benar-benar memperhatikan, memberi kasih sayang, memiliki banyak waktu untuk anaknya. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan oleh orang tua untuk mencegah anaknya dari perbuatan seks bebas antara lain membekali anaknya dengan pendidikan agama. Agama Islam merupakan agama yang memiliki penganut paling banyak di Indonesia. Orang tua yang beragama Islam bisa memberikan perhatian kepada anaknya dengan bekal agama dalam bentuk mengajarkan anak untuk beribadah kepada Allah, rajin membaca dan mengkaji Al Qur’an, dan memberikan tontonan kepada anaknya berupa tontonan yang berisi pengetahuan agama Islam. Orang tua memiliki peran yang penting untuk menghindarkan anaknya dari pergaulan bebas, orang tua harus bisa menjadi tempat di mana anaknya merasa tenang, menjadi tempat untuk mengutarakan segala keluh kesah, serta memberi rasa nyaman untuk anaknya. Untuk itu, orang tua harus bisa membagi waktunya antara karir dengan anak. Anak harus mendapatkan waktu yang cukup untuk dekat dengan orang tuanya supaya anak tidak merasa kurang diperhatikan oleh orang tuanya.

Selain itu, orang tua tidak boleh menerapkan kekerasan dalam mendidik anaknya. Karena itu hanya akan membuat anak menjadi ingin menjauh dari orang tuanya dan semakin lama anak akan membenci orang tuanya. Dan karena kebencian itulah, mungkin melakukan seks bebas sebagai pelampiasannya. Cara mendidik anak perlu diperhatikan agar anak tidak menjalani hidup di jalan yang salah. Tidak hanya seks bebas yang dijadikan pelampiasan, anak pun bisa mencari pelampiasan lain untuk menenangkan dirinya dari pola didik orang tuanya yang kasar. Dan pelampiasan itu adalah menggunakan narkoba, narkoba memberi efek tenang kepada penggunanya tetapi meninggalkan efek samping berupa rasa sakit kepada penggunanya. Penggunaan narkoba juga menjadi salah satu faktor terjadinya virus HIV.

Dan ini benar-benar terjadi di lingkungan sekitar penulis, penulis pernah mendengar seorang anak yang dididik orang tuanya dengan kekerasan. Karena tidak tahan dengan perlakuan orang tuanya, anak itu mencari pelampiasan yaitu dengan menggunakan narkoba yang dijual oleh temannya. Anak itu menjadi semakin liar, anak itu melakukan hubungan intim dengan kekasihnya tanpa memikirkan apa risiko yang akan mereka terima di kemudian hari. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa orang tua harus mendidik anaknya dengan lemah lembut tapi tanpa mengurangi ketegasannya.

Selain itu, orang tua bisa mencegah anaknya dari perbuatan terlarang dengan menjadi tempat curhat anaknya. Orang tua harus bisa dekat dengan anaknya dengan memberikan cukup waktu untuk anaknya, mengajak bicara, mendengarkan apa yang dikatakan anaknya, dan memberi solusi ketika anaknya mendapatkan suatu masalah. Dengan ini, anak merasa nyaman dengan orang tuanya dan akan menaati perintah orang tuanya karena ia merasa bahwa orang tuanya mau mendengarnya dan ini saatnya anak mendengarkan orang tuanya. Jadi, cukup orang tua memerintahkan anaknya untuk menghindari dirinya dari perbuatan keji seperti seks bebas dan narkoba, maka anaknya tidak akan pernah mengkhianati perintah orang tuanya itu.

Kini masalahnya ada pada para pemuda dalam menghindarkan dirinya dari perbuatan yang dapat mengakibatkan dirinya terkena virus HIV. Pemuda harus berperan aktif dalam usaha pencegahan virus HIV di kalangan masyarakat. Pemuda dapat memulai aksinya dengan mencegah dirinya terkena virus HIV. Dimulai dengan menjalin hubungan yang erat dengan anggota keluarga lain terutama orang tua. Dengan memiliki hubungan erat dengan keluarga, pemuda menjadi lebih segan untuk menaati aturan di keluarganya termasuk tidak boleh berbuat seks bebas. Selain itu, pemuda bisa mencari kesibukan dengan menjadi bagian dari suatu organisasi baik itu organisasi sekolah maupun organisasi masyarakat. Dengan berorganisasi, pemuda tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat yang dapat menjerumuskannya ke dalam penyakit AIDS karena ia telah memiliki kesibukan yang lain. Dan yang terpenting adalah pemuda harus mendalami pengetahuannya tentang virus HIV, baik itu faktor penyebabnya, dampaknya, dan cara penanggulangannya.

Dalam praktiknya di masyarakat, para pemuda dapat berperan untuk menanggulangi virus HIV meskipun itu melalui tindakan kecil. Misalnya mengadakan peyuluhan yang ditujukan untuk orang-orang yang ada di lingkungan sekolahnya, universitasnya, kampungnya, dan di tempat-tempat lain, serta materi mengenai HIV disampaikan oleh pembicara yang berkompeten di bidangnya. Atau bisa juga pemuda sering mengadakan kajian/tablig yang ditujukan untuk umum. Kajian/tablig tersebut bisa berisi materi-materi mengenai zina dan bahayanya. Dengan pembekalan materi seperti itu, masyarakat menjadi tahu betapa bahayanya virus HIV bagi kehidupan. Maka dari itu, masyarakat menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan virus HIV. Di samping itu, pemuda harus bisa menjadi mentor untuk pemuda yang lain. Maksudnya adalah, pemuda tersebut menjadi pengingat pemuda yang lain akan sangat berbahayanya HIV/AIDS. Pemuda tersebut bisa mengingatkan pemuda yang lain dengan cara mengingatkannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mempelajari lebih dalam mengenai HIV, meningatkannya untuk tidak pacaran karena berpacaran merupakan akar dari zina. Dan zina adalah salah satu akar penyebab terjadinya HIV/AIDS.

Tak hanya berhenti di situ, bahkan pemuda bisa membuat suatu gebrakan yang belum dilakukan sama sekali oleh orang lain, yaitu meminta tolong pemerintah untuk menutup tempat berlangsungnya praktik prostitusi. Tindakan ini merupakan tindakan besar dan mampu mengurangi jumlah korban pengidap penyakit AIDS. Setelah berhasil membujuk pemerintah untuk menutup tempat praktik prostitusi dan pemerintah berhasil melakukannya, giliran pemuda yang turun langsung ke lapangan dengan memberi penyuluhan kepada warga yang berada di sekitar tempat prostitusi dan para pelaku prostitusi yang kebanyakan adalah kaum wanita. Penyuluhan itu juga bisa diberi materi yang berisi bahwa wanita seharusnya berada di dalam rumah, mendidik anaknya agar tidak hidup di jalan yang salah, mengurusi segala urusan rumah tangga, dan menjadi suri tauladan untuk anaknya.

Penyakit AIDS merupakan penyakit mematikan yang banyak terjadi khususnya di Indonesia. Penyakit yang ditimbulkan oleh virus HIV ini jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Dalam hal ini, peran orang tua dan para pemuda sangatlah dibutuhkan untuk menanggulangi penyakit ini. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi fasilitator yang baik bagi anak terutama dalam hal pendidikan agama dan moral. Selain itu, pemuda juga harus berperan aktif di masyarakat yang tujuannya adalah untuk mengurangi atau bahkan membasmi penyakit AIDS dengan berbagai cara, dan salah satu cara yang paling sederhana adalah memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai apa itu HIV, faktor penyebabnya, bahayanya, dan cara penanggulangannya.

6 Dec 2015

PMII Unila Umumkan 10 Karya Terbaik Lomba Esai

Minggu (6/12), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung mengumumkan 10 karya terbaik dari National Essay Competition Online.

Sebelumnya dijadwalkan bahwa pada tanggal 6-7 Desember merupakan pengumuman juara 1, 2, 3. Namun dikarenakan jumlah pendaftar yang banyak membuat dewan juri kewalahan untuk menilainya.

Lomba menulis esai ini sebagai bentuk pencarian pemikiran tentang penanggulangan permasalahan HIV/Aids, sekaligus memperingati Hari Aids Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember.

Dengan mengusung tema “Peran Pemuda dan Keluarga dalam Menaggulangi Berbagai Permasalahan HIV/Aids”, lomba ini telah mendapatkan 10 terbaik dari total peserta yang mencapai 217 peserta terdiri dari berbagai pelajar dan mahasiswa di Nusantara.

Sepuluh karya terbaik tersebut yaitu :
1. Balqis Bahirah Fa’adilah dengan judul Pentingnya Mengingatkan, Menjaga dan Melindungi Mereka dari Bahaya HIV/Aids
2. Hilda Julaika dengan judul Pemuda dan Keluarga Bukti Kepedulian Terkam HIV/Aids
3. Indri Wahyuningtyas dengan judul Peran Aktif Pemuda dan Keluarga Menuju Indonesia Bebas HIV/Aids
4. Luluk Nur’aini dengan judul Intensive After School Program : Upaya Pencegahan Dini HIV/Aids di Kalangan Pelajar
5. Irshad Al Islamy dengan judul Empat Dukungan Penting dari Pemuda dan Masyarakat untuk Para Penderita Aids
6. Esa Azali Asyahid dengan judul Revitalisasi Fungsi Keluarga untuk Menanggulangi HIV/Aids Secara Tuntas
7. Elmi Mufidah dengan judul Menuju BEHA (Bersih HIV/Aids) dalam Membangun Karakter Bangsa
8. Annisa Bunga Nafara dengan judul Pentingnya Dukungan Psikososiospiritual, Manajemen Terapi Nutrisi dan Higenitas Lingkungan untuk Penderita Aids
9. Novi Tri Yana dengan judul DAKU “Dunia Remajaku Seru” : Solusi untuk Meningkatkan Kepedulian Kalangan Remaja Terhadap Penyebaran HIV/Aids di Indonesia
10. Rayhan Naufal Ramadhan dengan judul Orang Tua Mengedukasi, Pemuda Beraksi, HIV dapat Diatasi

Nantinya 10 karya tersebut akan diseleksi menuju 3 besar untuk menentukan juara 1, 2, dan 3. Pengumunan ketiga juara akan diumumkan pada tanggal 8 Desember 2015 mulai pukul 23.59 WIB.

“Rencananya jika memang tidak ada halangan, pengumuman tiga besar sekaligus juara akan diumumkan pada tanggal 8 Desember 2015 pukul 23.59 WIB” Ujar Erzal Syahreza Aswir selaku ketua pelaksana.

5 Dec 2015

Lomba Esai Nasional Online - PMII Unila

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung dalam rangka memperingati Hari Aids Sedunia mengadakan Lomba Esai Nasional Online dengan tema Peran Pemuda dan Keluarga dalam Menanggulangi Berbagai Permasalahan HIV/Aids.

Download Pamflet Lomba Disini
Download TOR Lomba Disini
Download Formulir Pendaftaran Disini




TIMELINE

1 – 30 November 2015      : Pendaftaran, Pembayaran, dan Pengumpulan Berkas
1 – 5 Desember 2015         : Tahap Penjurian
6 – 7 Desember 2015         : Pengumuman Pemenang


SYARAT

1.       Peserta merupakan mahasiswa aktif S1/D3 atau pelajar aktif SMA/Sederajat (Dibuktikan dengan scan atau foto kartu mahasiswa/pelajar)
2.        Peserta dapat mengirim maksimal 3 karya
3.        Peserta harus mengisi form pendaftaran yang dapat diunduh di www.pmii-unila.org
4.        Peserta wajib membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000,00 (per karya)
Pembayaran dikirimkan ke rekening panitia lomba essai nasional :
a.n. Erzal Syahreza Aswir
No. Rekening 0310874647 (BNI)
(Scan Bukti Pembayaran)
Paling lambat tanggal 30 November 2015
(Wajib Konfirmasi)
5.       Kirim formulir pendaftaran, scan kartu mahasiswa/pelajar, scan bukti pembayaran, softcopy esai.
Kirim melalui email ke lombaesai.pmiiunila@gmail.com, dengan subjek ESAI PMII UNILA
6.       Pemenang lomba diumumkan pada 6-7 Desember 2015 melalui website www.pmii-unila.org


KETENTUAN

1.        Peserta wajib like fanspage dengan nama PMII UNILA News
2.        Peserta wajib follow twitter @pmiiunila
3.        Konfirmasi ataupun pertanyaan seputar lomba ke 082378871562
4.        Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
5.        Hadiah akan dikirimkan melalui rekening panitia ke rekening pemenang
6.        Sertifikat akan dikirimkan ke email peserta

TEKNIS LOMBA

1.        Ketentuan Karya
A.  Karya esai orisinal, bukan tiruan atau jiplakan, dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya
B.  Karya esai tidak memuat suatu produk dan tidak mengandung unsur SARA
C. Penulisan esai disesuaikan dengan tema yang telah ditentukan panitia, dan dieksplorasi secara kreatif
D.  Menggunakan Bahasa Indonesia sesuai EYD
E.   Karya esai berupa hasil kerja individual
F.   Hak cipta seluruh karya yang diterima panitia merupakan milik panitia
G.  Apabila ada pembuktian pelanggaran ketentuan diatas, karya akan didiskualifikasi


2.        Format Karya
A.  Penulisan 1000-1500 kata dengan font Times New Roman ukuran 12
B.  Margin Top 3 cm, Right 3 cm, Down 3 cm, dan Left 3 cm dengan ukuran kertas A4


3.         Pengumpulan Karya
        A. Pengumpulan karya melalui email lombaesai.pmiiunila@gmail.com paling lambat 30 November         2015
       B. Pengumpulan karya disertai dengan scan kartu pelajar/mahasiswa, formulir pendaftaran, scan               bukti pembayaran


JUARA

1.        Juara 1 : Rp 1.000.000,00 + sertifikat
2.        Juara 2 : Rp 750.000,00 + sertifikat
3.        Juara 3 : Rp 500.000,00 + sertifikat
4.        Sepuluh karya terbaik akan mendapatkan sertifikat

DEWAN JURI
1.        M. Iwan Satriawan, S.H, M.H
Penulis Berbagai Buku Akademis
2.        Asyihin
Jurnalis Lampung Post

Ubudiah

Ilmu

Aswaja