PMII UNILA : Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh: Info PMI
Showing posts with label Info PMI. Show all posts
Showing posts with label Info PMI. Show all posts

5 Apr 2018

Sambut Hari Kartini, Kopri Rayon Hukum Gelar Perlombaan Miss Kartini 2018


Bandarlampung. Dalam rangka menyambut hari kartini tanggal 21 April yang akan datang,  Kopri (Korp PMII Putri)  Rayon Hukum Universitas Lampung Gelar Perlombaan Miss Kartini 2018.

Ketua Kopri PMII Rayon Hukum,  Dewi Sukma menjelaskan tujuan menggelar kegiatan ini untuk meningkatkan kreatifitas serta inovatifitas kader perempuan.

"Tujuan kegitan ini untuk meningkatkan kreatifitas serta inovatifitas kader perempuan pergerakan untuk turut serta memiliki jiwa kompetitif dan mampu berdaya saing" ungkapnya

Selain Perlombaan Miss kartini 2018, Kopri PMII Rayon Hukum akan menggelar Lomba Menulis Artikel yang bisa di ikuti oleh seluruh kader PMII se-Indonesia , Photo Contest untuk seluruh kader PMII dengan syarat Men-"Tag" IG Officials Kopri Rayon Hukum di @Koprirayonhukumunila.

Pendaftaran Lomba dibuka sejak 1 sampai dengan 21 April Mendatang.  (RFZ)

23 Mar 2018

Pemantapan Ideologi, PMII Rayon Hukum Gelar Sekolah Aswaja se-Bandarlampung




Bandarlampung.  Mantapkan Ideologi Aswaja (Ahlussunnah wal jama'ah) , PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)  Rayon Hukum gelar Sekolah Aswaja se- Bandarlampung di Pondok Pesantren Al Muttaqin,  kemiling,  Bandar Lampung.  (23-25/03/2018)


Sekolah Aswaja yang mengusung tema "Meneguhkan Nilai-Nilai Aswaja Sebagai Spirit Pergerakan di Era Milenial" di hadiri Ichwan Aji Wibowo selaku ketua PCNU Bandarlampung,  Iwan Satriawan selaku Senior dan Dosen Fakultas Hukum Unila,  Erzal Syahreza Aswir Selaku Ketua Cabang PMII Bandarlampung,  PMII Unila,  PMII Darmajaya,  dan 60 Peserta Sekolah Aswaja.


Ketua PCNU Bandar Lampung, Ichwan Aji berpesan agar selesai dari sekolah aswaja ini bisa mengimplementasikan nya dan menjadi agen Aswaja.

"Jangan sekedar monolog, harus berdialog,  banyaklah membaca, diskusi dan berdialog baik dalam pemahaman aswaja serta kedepannya manjadi Duta ataupun Agen Aswaja an-nahdiyah di kampus masing-masing yang mengimplementasikan dalam keseharian sebagai mahasiswa" ungkapnya

Selain itu Ketua Rayon Hukum,  Kausar Jumahir Lesen berharap setelah selesai mengikuti sekolah aswaja ini paham apa artinya aswaja an-nahdiyah


"Semoga acara berjalan dengan baik,  dan sahabat - sahabat mampu memahami Ahlussunnah waljamaah an-nahdiyah yang menjadi ideologi jamaah nahdiyin"



Ditengah banyaknya yang mengaku Aswaja,  sudah menjadi keharusan seluruh kader dan anggota memahami ahlussunnah an-nahdiyah.  (RFz)

20 Mar 2018

Tingkatkan Kualitas, PMII Rayon Hukum Unila Gelar Legal Course




Bandarlampung. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Hukum gelar Legal Course untuk pertama kalinya, kegiatan yang mengambil tema “Penanganan dan Penyelesaian Hukum dalam Tindak Pidana Penggelapan” di isi langsung oleh Yudi Yusnandi.,S.H.M.H. (18/03/2018)

Ketua Pelaksana,  Aziz Rahmat menjelaskan kegiatan ini di ikuti 25 peserta yang dibagi menjadi Dua Tim

“Dalam pelatihan ini di ikuti 25 Peserta, yang dibagi menjadi Dua Tim. Mereka melakukan diskusi terhadap kasus posisi dan selanjutnya mereka akan membuat dokumen hukum, ini bertujuan agar suasana pelatihan membangun logika hukum, penalaran hukum, kemampuan untuk bernegosiasi dan berpikir out of the box” ungkapnya.

Selain itu juga Ketua PMII Rayon Hukum,  Kausar Jumaihir Lesen berharap dengan adanya kegiatan ini mampu meningkatkan kualitas kader pmii

“Bisa menambah kemampuan intelektual terkait kajian hukum khususnya peracara yang dilakukan terus menerus, semoga sahabat anggota maupun kader mampu memahami dan melakukan praktik yang baik dalam beracara tersebut” Tutupnya. (RFz)

11 Feb 2018

Rohimatun Nikmah Raih juara 3 lomba sholawat




 Salah satu kader KOPRI Kom.Unila sukses raih juara 3 lomba sholawat pada hari Minggu, 11/02/2018.

Rohimatun Nikmah merupakan salah satu kader KOPRI terbaik yang dimiliki oleh PMII komisariat unila, ia sukses meraih juara 3 lomba sholawat di Kec.Purbolinggo dalam rangka Harlah SMK 1 Ma'arif NU Purbolinggo. Perlombaan itu diikuti oleh 25 grup peserta yang berasal dari 3 kecamatan.

Nikmah mengaku merasa gemetar sebelum mengikuti perlombaan, karena grup kosidah ini baru saja dibentuk dan ia pun tak pernah menyangka akan mendapat juara 3 dan ia pun sangat bersyukur atas pencapaian nya ini jelasnya.

Harapan untuk kedepannya agar tetap rendah hati dan terus berlatih agar lebih kompak lagi dan bisa membawa nama baik PMII khususnya, orang tua maupun warga desanya.

Iya menyampaikan pesan untuk anggota KOPRI khususnya agar jangan pernah malu dan ragu untuk menunjukkan bakat dan skill yang dimiliki. Buktikan bahwa KOPRI juga mampu berkarya tanpa menyalahi kodrat yang maha kuasa.

Ia juga mengusulkan agar PMII Unila dapat membuat grup kosidah atau Nasyid untuk KOPRI sebagai Wadahnya jelas salah satu kader KOPRI FEB tersebut.

3 Jun 2016

Ila Fadilasari: Citizen Jurnalizm Semakin Liar

Dewasa ini penyedia berita-berita semakin merajalela, baik berupa cetak maupun online. Maraknya penyedia portal berita membuat kaidah jurnalistik semakin merosot, lantaran persaingan yang semakin hebat dan hal tersebut terkadang membuat berita yang tidak sesuai dengan realita yang ada, seperti black campaign contohnya.

Merosotnya kaidah-kaidah jurnalistik membuat Ila Fadilasari merasa miris. Ia yang merupakan mantan jurnalis Majalah Tempo dan Metro TV merasa ada yang salah dengan jurnalistik saat ini. Menurutnya, saat ini dunia jurnalistik semakin tidak jelas. Ketidakjelasan tersebut dapat dilihat dari maraknya media yang saling serang dengan berbagai kepentingan.

“Dunia jurnalistik saat ini semakin tidak jelas, hal ini dapat dilihat dari maraknya media yang saling serang dan membela kepentingan masing-masing” Ujar Ila yang kini menjadi Pemimpin Redaksi nu-lampung.or.id.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini ketika ada berita buruk, banyak jurnalis yang meliputnya tanpa melakukan investigasi. “Ketika tersebar berita buruk, banyak jurnalis yang meliputnya tanpa melakukan investigasi. Hal tersebutlah yang membuat citizen jurnalizm semakin liar” Kata Ila ketika menjadi pemateri Pekan Jurnalistik Mahasiswa di Ponpes Darussa’adah Gunung Terang.

30 May 2016

Ila Fadilasari Akan Jadi Pemateri Pekan Jurnalistik Mahasiswa

Jumat depan (3/6), PMII Unila bersama dengan KMNU Unila dan Pondok Pesantren Darussa’adah Gunung Terang akan menggelar acara Pekan Jurnalistik Mahasiswa. Acara ini akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa’adah Gunung Terang. Rencananya, Pekan Jurnalistik Mahasiswa akan menghadirkan Ila Fadilasari sebagai pemateri.

Acara ini juga memiliki agenda penyambutan bulan suci Ramadhan yang akan dilakukan setelah pelatihan penulisan berita oleh Ila Fadilasari, diisi dengan pawai bersama TPA dan santri pondok pesantren.

Imam Mahmud selaku ketua pelaksana mengungkapkan bahwa dalam Pekan Jurnalistik Mahasiswa ini tidak hanya pelatihan penulisan berita, namun juga dilakukan pawai akbar sebagai penyambutan bulan suci Ramadhan.

“Selain pelatihan penulisan berita, Pekan Jurnalistik Mahasiswa ini juga diiringi dengan pawai penyambutan bulan suci Ramadhan pada akhir sesinya” Ujar Mahmud yang juga merupakan kepala Departemen Kominfo PMII Unila.

Sementara Erzal Syahreza Aswir selaku ketua komisariat PMII Unila sangat mengapresiasi kegiatan ini, menurutnya acara pelatihan penulisan seperti ini memang sudah selayaknya dilakukan oleh setiap organisasi tingkat mahasiswa. Menurutnya, organisasi tingkat mahasiswa diisi oleh orang-orang yang harus pandai dalam dunia tulis menulis, karena mahasiswa merupakan salah satu agen intelektual negara.

4 Jul 2015

PMII Penjaga NKRI

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi kemahasiswaan yang didirikan oleh mahasiswa NU di Surabaya 55 tahun silam. Meski hubungan struktural PMII-NU mengalami pergeseran, mulai dari dependen (1960-1972), independen (1972-1991) serta interdependen (1991-sekarang), namun PMII tetap berpegang teguh pada ideologi ahlussunah wal jama’ah sebagaimana yang dianut NU. Pengewajantahan aswaja ala PMII salah satunya yaitu dengan menisbahkan diri sebagai penjaga NKRI.
Sejak didirikan, PMII telah menisbahkan diri sebagai pembela bangsa dan penegak agama. Penegasan itu kemudian dituangkan dalam bait awal Mars PMII “Inilah kami wahai Indonesia, satu barisan satu cita, pembela bangsa penegak agama”.
Tentu bukan kebetulan mencantumkan kata Indonesia pada nama organisasi ini. Hal ini jelas sudah difikirkan secara matang oleh para pendirinya. Jika melihat organisasi pendahulu sebelum PMII, tidak terlihat yang mencantumkan kata Indonesia. Inilah yang membedakan PMII dengan organisasi-organisasi sebelumnya.
Pencantuman kata Indonesia jelas suatu penegasan, bahwa berdirinya organisasi ini sebagai penjaga NKRI. Sehingga tidak mengherankan mars PMII diawali dengan kata inilah kami wahai Indonesia, pembela bangsa.
Penyerahan diri PMII sebagai pembela bangsa tentu tidak hanya dilihat dari lirik marsnya. Pada semua sisi dengan jelas PMII ingin menunjukan dirinya sebagai pembela bangsa ini. Misalnya dalam mukaddimah Anggaran Dasar, dengan tegas mengatakan bahwa pancasila merupakan falsafah bangsa Indonesia yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Pengakuan tersebut terlebih dahulu diawali kata-kata “insaf” dan “sadar” semakin membuktikan kesungguhan PMII sebagai penjaga pancasila.
Begitu juga pada setiap momen, PMII selalu mengingatkan warganya untuk terus menjaga NKRI. Semua warga PMII senantiasa mengucapkan janjinya untuk terus memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia pada sumpahnya sebagai anggota ataupun pengurus.
Kesungguhan sebagai pembela bangsa tentu tidak hanya dapat dilihat dari simbol-simbol itu saja. Selama perjalanan organisasi ini, sejak berdiri hingga sekarang, PMII telah menunjukan sikapnya sebagai pengewajantahan penjaga NKRI. PMII selalu mengdepankan kepentingan negara (dalam hal ini rakyat Indonesia). PMII akan menjadi yang terdepan jika rakyat Indonesia menjadi pihak yang dirugikan baik oleh pemerintahnya sendiri maupun bangsa asing. Oleh karena itu slogan “NKRI harga mati” bukanlah sebatas slogan bagi PMII. Tapi senantiasa teraplikasikan dalam setiap gerak dan langkahnya.

12 May 2015

Mengenal Lebih Dekat, Abdul Wahab Jaelani (Pendiri PMII)

Mungkin, banyak yang tak asing dengan nama Abdul Wahab Jaelani. Ya, laki-laki kelahiran Semarang, 21 November ini merupakan salah satu dari 13 pendiri PMII sekaligus menjadi Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah pertama. Kepribadian tegas dan jujur, menjadi bekal dalam menjalankan segala aktifitas organisasi dan kehidupannya. Pengalaman organisasi yang ia miliki pun tak sedikit, yaitu PMII PKC Jawa Tengah pada tahun 1968, dan ditemani oleh Yusuf Ruhayat sebagai Sekretaris Umum serta H. Rifa’i sebagai Bendahara PKC saat itu. Perjuangan tak berhenti di situ, ia pun pernah menjabat sebagai ketua NU Cabang Semarang periode tahun 1985.
Hj. Qomariyah, wanita berparas ayu yang dinikahinya pada tahun 1969, mengakui kecakapannya dalam urusan berorganisasi, sehingga membuatnya terpilih sebagai anggota DPR Provinsi sebanyak dua kali, yakni tahun 1978-1982 serta 1982-1987. Lelaki yang pernah menjadi anggota PWNU Mubarat itu pun, dipercaya kembali menjadi anggota DPR Kota Semarang masa bakti 1987-1992. Nikah massal dan sunnat massal ia adakan semasa jabatannya ketika menjadi anggota PWNU. Di kalangan keluarganya, pak Wahab, begitu panggilan akrabnya, dianggap sebagai sosok yang lugas, jujur, apa adanya serta, menjalankan tugas sesuai dengan jalurnya. Patut untuk dicontoh bagi setiap kader PMII.
Bukan hanya aktifitas dunia yang selalu ia tekuni, berziarah ke makam kedua orang tua serta Kiai Soleh Darat juga menjadi kegiatan spiritual rutin. Tujuannya tak lain adalah  untuk lebih mendekatkan diri dengan Sang Ilahi. Bahkan suatu saat, ketika beliau sedang membacakan doa di makam Kiai Soleh Darat, seekor kunang-kunang jatuh dihadapannya dan berubah menjadi sebuah batu akik yang cantik. Yang kemudian ia simpan untuk dirinya sendiri. Seorang kader PMII serta pemimpin yang sederhana memang patut untuk ditiru semangat dan kepribadiannya. Namun, takdir kematian memang tak dapat dielakkan. Rabu, 21 Mei 1996, beliau harus berpulang ke rahmatullah karena penyakit jantung yang dideritanya. Dan beliau dimakamkan di daerah Bargota, Jl. Wit Saleh. Semarang. (Lahumul fatihah).
Nama lengkap                      : Alm. Abdul Wahab Jaelani
Tempat, Tanggal Lahir       : Semarang, 21 November 1936
Alamat                                   : Jl. Flamboyan. No. 56. Sampangan. Semarang
Pendidikan                             :
  1. Sarjana Ekonomi Akop (Akademi Koperasi) Semarang
  2. Sarjana Hukum UNTAG tahun 1985
Pengalaman Organisasi     :
  • PMII PKC Jawa Tengah 1968
  • Ketua NU Cabang Semarang sekitar th 1985
  • Anggota PWNU Mubarat
  • Anggota DPR Provinsi Jawa Tengah tahun 1978-1982, 1982-1987
  • Anggota DPR kota Semarang masa bakti 1987-1992
Nama istri                             : Hj. Qamariyah
Nama anak                            :
  1. Aida Malikha, S. Psi, M. Si
  2. M. Qosim Marzuki, SE, Akt
  3. Laila Fitriana, SH
  4. Ahson Mas’ud, S. Sos
  5. Nur Arofa, S. Psi
Cholid Narbuko, Pendiri PMII Ini Sangat Demokratis

Cholid Narbuko, Pendiri PMII Ini Sangat Demokratis

Konferensi Besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Kaliurang, 55 tahun yang lalu menjadi tonggak awal sejarah berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tercatat 13 nama, yang bertugas merumuskan pendirian organisasi mahasiswa berbasis NU saat itu, sehingga berdirilah PMII. Salah satu dari 13 Tokoh Mahasiswa NU tersebut adalah Mahasiswa NU asal Malang yang dikenal sangat demokratis, Cholid Narbuko.

Bernama lengkap H Cholid Narbuko bin Zubair, pria ini lahir di Salatiga tepat 21 April 1937. Cholid Narbuko wafat di Semarang, pada Tanggal 13 Juni 1999 yang lalu. Ia pun dimakamkan di pemakaman tanah kelahirannya, Pemakaman Kauman Salatiga.

Cholid Narbuko adalah akademisi ulung, yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim yang saat ini dikenal dengan UNISMA (1969-1965). Selanjutnya, ia juga telah memperoleh gelar Sarjana di FISIP UNEJ Jember (1968).

Salah satu pendiri SMP NU Malang (1965) ini telah mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Tak lama setelah mengabdikan diri di Departemen Agama Provinsi di Semarang, ia memilih untuk mengajar di PGA Jember (1967 – 1969).

Tangan dinginnya dalam dunia pendidikan juga telah membawanya menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di beberapa perguruan tinggi. Berawal menjadi pembantu dekan Fakultas Tarbiyah Sunan Kalijaga di Kudus (1969), ia terpilih menjadi Dekan di Fakultas tersebut (1970 -1975). Setelah itu, ia dipercayakan menjadi dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Semarang (1975 – 1977).

Kemudian menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di Salatiga (1978 – 1980). Dua tahun menjadi Dekan di Salatiga, ia pun kembali menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah Walisongo Semarang (1982 – 1989).
Setelah empat tahun berdirinya PMII, ia memutuskan untuk menikahi wanita asal Cepu, Hj. Siti Rosyidah Binti KH. Samsul Hadi. Pernikahan tersebut digelar tepat pada Tanggal 26 April 1964. Buah pernikahan tersebut dikaruniai 5 orang anak yakni, Dra Tina Wasithoh F.N, Ririn Siti Hajar Amd, Mohammad Umar Fatah Wijaya S.SSO MA, Noor Syamsiah Alina Amd, dan Jazimah Thoifatul Muthmainah Amd.

Perjalanan hidupnya begitu memberikan arti dan makna bagi keluarga dan masyarakat. Bagaimana tidak, akademisi tulen yang juga merupakan salah satu pendiri PMII ini adalah sosok yang sangat penyabar. Bahkan ia dikenal sebagai sosok pria, yang sama sekali tak pernah memperlihatkan kemarahannya. Maka tak heran, jika siapapun akan merasa tenang dan nyaman ketika bersanding, bersenda gurau dan saling berbagi cerita dengannya.

Jiwa pengabdian dan rasa sosialis yang tinggi, tak urung membuatnya lelah untuk berbagi. Ketika aktif menjadi Dekan Tarbiyah di beberapa Perguruan Tinggi, ia aktif mengadakan kegiatan bertajuk sosial. Salah satu yang rutin diadakannya adalah mengadakan sunatan masal. Tak ingin berjuang sendiri, ia terus memotivasi keluarga, agar tak kenal lelah mengabdikan diri pada lingkungan dan masyarakat.
Berlatar Belakang NU, Beberapa Menteri Ini Berhasil Memuaskan Publik

Berlatar Belakang NU, Beberapa Menteri Ini Berhasil Memuaskan Publik

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh PolcoMM Institute, kinerja beberapa menteri yang berlatar belakang NU (Nahdlatul Ulama), ternyata memiliki kinerja yang memuaskan di mata publik. Beberapa menteri tersebut adalah Muhammad Hanif Dhakiri, Marwan Jafar dan Khofifah Indar Parawansa.

Dikutip dari NU Online, Heri Budianto, Direktur PalcoMM Institute mengungkapkan, Kinerja Hanif Dhakiri selaku Menteri Tenaga Kerja dianggap positif dengan presentase 4,7 persen. Peniliaian positif tersebut di latarbelakangi oleh keberpihakannya terhadap TKI, memberikan sanksi bagi PJTKI brengsek, dan sertifikasi profesi. Hanif Dhakiri adalah salah satu aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang saat ini masih menjabat sebagai Sekjend PB IKA PMII.

Selanjutnya adalah Marwan Jafar selaku Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi yang memiliki presentase 2,1 persen. Jafar yang sebelumnya menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dinilai positif, karena fokus memperjuangkan dana desa dan pembangunan daerah tertinggal serta perbatasan atau daerah terluar.

“Lalu Menteri Sosial, Khofifah Parawansa, dinilai positif karena pemberian kompensasi BBM dan pelaksanaan Kartu Indonesia Sehat,” ungkap Heri.

Terkait hal tersebut Heri mengungkapkan, menteri yang mendapatkan penilaian positif tertinggi adalah Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti sebesar 10,9 persen. Hal tersebut diraih, atas penangkapan dan penenggelaman kapal ikan asing illegal yang dilakukan.

Adapun Menteri lain yang mendapatkan respon positif adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
“Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, dinilai memiliki kinerja positif dengan prosentase 5,3 persen, terkait kinerjanya menunda kurikulum 2013 dan penghapusan Ujian Nasional,” ungkap Heri.

Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, juga dinilai publik memiliki kinerja positif dengan presentase sebesar 3,1 persen. “Dia dianggap mumpuni mengatur penerbangan dan soal penataan bandara,” ujarnya.

Selain itu, PolcoMM institute juga membeberkan beberapa kabinet kerja Presiden Jokowi, yang memiliki citra kinerja negatif di mata publik. Seperti halnya Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H Laoly. Laoly dianggap memberikan kontribusi atas konflik PPP dan Partai Golkar serta dinilai kontroversial terhadap pemberian remisi kepada koruptor.

“Pemberitaan negatif kepada menteri hukum dan HAM sebesar 6,7 persen,” ujarnya.
Lainnya adalah Menteri Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Purdijatno, sebesar 6,3 persen. “Pemberitaan dengan kinerja negatif ini lebih banyak soal pernyataan kontroversial soal kisruh KPK-Polri,” ujarnya.

Selanjutnya, kinerja menteri yang kurang memuaskan adalah Menteri ESDM, Sudirman Said, dengan persentase 4,1 persen. Said dianggap publik gagal mengendalikan soal BBM dan mafia migas.
“Lalu Sekretaris Kabinet, Andi Wijayanto, memiliki prosentasi 3,1 persen karena dianggap pihak yang menjatuhkan presiden dengan partai pengusungnya,” ujar Heri.

Menteri BUMN, Rini Soemarno, menurut dia, juga menilai memiliki kinerja negatif yaitu 1,4 persen. Kinerja Soemarno dianggap negatif, terkait pergantian direksi BUMN dan rencana penjualan Gedung Kementerian BUMN di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, yang ada di ‘ring 1’.

Untuk diketahui, survei tersebut dilakukan dengan teknik pengumpulan data berupa berita sebanyak 32.046 berita di media massa nasional. Metode riset yang digunakan adalah analisis kandungan berita dan discourse analysis, dengan periode pemberitaan dari 6 Oktober 2015 hingga April 2015 dan periode riset 1 hingga 7 Mei 2015.

19 Apr 2015

PMII Unila Gelar Sholawat Akbar

Sebanyak 67 warga PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) mengikuti sholawat yang diadakan oleh Pengurus Komisariat PMII Universitas Lampung pada 11 April lalu. Acara ini dilakukan kantor PW LP Maarif NU Provinsi Lampung.

“Dengan bersholawat bersama semoga bisa meningkatkan iman kita semua serta dapat meningkatkan ikatan emosional antar sesama warga PMII,” tutur Erzal Syahreza Aswir yang merupakan salah satu panitia pelaksana.

Ia berkeyakinan sholawat bisa menumbuhkan rasa cinta akan seni budaya Islam yang ada di Indonesia. Sebab, menurutnya, saat ini seni budaya Islam Indonesia mulai luntur ketika berada di daerah perkotaan.

7 Sept 2013

Photo kegiatan Mapaba PMII Unila

Bandar lampung, PMII Unila hari ini selesai mengadakan Mapaba, agenda rutin penerimaan anggota baru ini ditutup oleh ketum PC PMII Bandarlampung yakni Hendri Badra, beliau berpesan pada anggota baru untuk terus selalu berpegang teguh pada ajaran ahlusunah waljamaah, yang sesuai dengan kultur bangsa Indonesia, terus selalu berproses walau sulit dan banyak rintangan di hadapi. berikut galery kegiatan mapaba PMII unila pada 7-8 september 2013.


Suasana pemberian materi Aswaja oleh mas Iwan Satriawan

Anggota baru setelah di baiat

prosesi baiat

pemberian materi oleh bang Mutakin

Prosesi pembukaan

photo bersama anggotabaru, panitia dan ketum PC PMII Bandarlampung


14 Jan 2013

MENGAPA MAHASISWA DAN PMII??

MENGAPA MAHASISWA DAN PMII??



Satu hal yang selalu menarik untuk dikupas yaitu mahasiswa dengan segala karakteristiknya. Dengan “segudang atribut” yang melekat pada dirinya, mahasiswa sering dijadikan “simbol” akan berbagai harapan dan perubahan. Ia dituntut mewakili setiap keinginan masyarakat yang kadang tidak tersalurkan dengan baik; mahasiswa juga diharapkan menjadi pembela sekaligus penyambung lidah dari berbagai bentuk diskriminasi serta ketidak adilan yang dialami masyarakat, dan yang termat penting, dipundak mahasiswa nantinya diletakan harapan akan terciptanya kehidupan yang lebih baik dari yang dirasakan hari ini.
Sejarah dan Tujuan PMII

Sejarah dan Tujuan PMII



A.     Sejarah PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu elemen mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik.  Lahirnya PMII tentu tidak berjalan mulus, banyak sekali hambatan dan rintangan. Hasrat mendirikan organisasi NU sudah lama bergolak, namun pihak NU belum memberikan green light. Belum menganggap perlu adanya organisasi tersendiri untuk mewadahi anak-anak NU yang belajar di perguruan tinggi. melihat fenomena yang ini, keinginan  intelektual-intelektual muda itu tak pernah kendur, bahkan semakin berkobar-kobar  dari kampus ke kampus. hal ini bisa dimengerti karena kondisi sosial politik pada dasawarsa 50-an memang sangat memungkinkan untuk lahirnya organisasi baru. Banyak organisasi Mahasiswa bermunculan dibawah naungan payung induknya.  Misalkan saja HMI yang dekat dengan Masyumi, SEMI dengan PSII, KMI dengan PERTI, IMM dengan Muhammadiyah dan Himmah yang bernaung dibawah Al-Washliyah.

Hal yang wajar jika intelektual-intelektual muda NU ingin mendirikan wadah tersendiri dan bernaung dibawah panji bintang sembilan, dan benar keinginan itu diwujudkan di Jakarta pada bulan Desember 1955, berdirilah Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) yang dipelopori oleh Wa'il Harits Sugianto. Sedangkan di Surakarta berdiri KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama) yang dipelopori oleh Mustahal Ahmad. Namun keberadaan kedua organisasi mahasiswa tersebut tidak direstui bahkan ditentang oleh Pimpinan Pusat IPNU dan PBNU dengan alasan IPNU baru saja berdiri dua tahun sebelumnya yakni tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. IPNU punya kekhawatiran jika IMANU dan KMNU akan memperlemah eksistensi IPNU. Jadi keberatan NU bukan terletak pada prinsip berdirinya IMANU dan KMNU, tetapi lebih pada pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas organisasi. Oleh karenanya, sampai pada konggres IPNU yang ke-2 (awal 1957 di pekalongan) dan ke-3 (akhir 1958 di Cirebon). NU belum memandang perlu adanya wadah tersendiri bagi mahasiswa NU. Namun kecenderungan ini sudah mulai diantisipasi dalam bentuk kelonggaran menambah Departemen Perguruan Tinggi dalam kestrukturan organisasi IPNU.

Disamping latar belakang lahirnya PMII seperti diatas, pada waktu itu intelektual muda NU yang ada di organisasi lain seperti HMI merasa tidak puas atas pola gerak HMI. Mahasiswa NU menganggap bahwa HMI sudah berpihak pada salah satu golongan yang kemudian ditengarai bahwa HMI adalah anderbow partai Masyumi, sehinggga mahasiswa NU di HMI juga mencari alternatif lain. Senada denga pendapat Deliar Nur (1987), beliau mengatakan bahwa PMII merupakan cermin ketidakpuasan sebagian mahasiswa muslim terhadap HMI, yang dianggap bahwa HMI dekat dengan golongan modernis (Muhammadiyah) dan dalam urusan politik lebih dekat dengan Masyumi.

Berdasarkan permasalahan di atas dapat ditarik benang merah atau pokok-pokok pikiran dari makna dari kelahiran PMII: 1) Bahwa PMII lahir karena ketidakmampuan Departemen Perguruan Tinggi IPNU dalam menampung aspirasi anak muda NU di Perguruan Tinggi. 2) PMII lahir dari rekayasa politik sekelompok mahasiswa muslim (NU) untuk mengembangkan kelembagaan politik menjadi underbow NU dalam upaya merealisasikan aspirasi politiknya. 3) PMII lahir dalam rangka mengembangkan paham Ahlussunah Waljama`ah dikalangan mahasiswa. 4) PMII lahir dari ketidakpuasan mahasiswa NU yang saat itu ada di HMI, karena HMI tidak lagi mempresentasikan paham mereka (Mahasiswa NU) dan nota bene HMI adalah underbouw MASYUMI. 5) Bahwa lahirnya PMII merupakan wujud kebebasan berpikir, artinya sebagai mahasiswa harus menyadari sikap menentukan kehendak sendiri atas dasar pilihan sikap dan idealisme yang dianutnya. Dengan demikian ide dasar pendirian PMII adalah murni dari intelektual-intelektual muda NU sendiri bahwa  harus bernaung dibawah panji NU itu bukan berarti sekedar pertimbangan praktis semata, misalnya karena kondisi pada saat itu yang memang nyaris menciptakan iklim dependensi sebagai suatu kemutlakan. Tetapi, keterikatan PMII kepada NU memang sudah terbentuk dan sengaja dibangun atas dasar kesamaan nilai, kultur, akidah, cita-cita dan bahkan pola berpikir, bertindak dan berperilaku.

Konferensi Besar IPNU (14-16 Maret 1960 di kaliurang), disepakati untuk mendirikan wadah tersendiri bagi mahsiswa NU, yang disambut dengan berkumpulnya tokoh-tokoh mahasiswa NU yang tergabung dalam IPNU, keputusan penunjukan tim perumus pendirian organisasi yang terdiri dari 13 tokoh mahasiswa NU. Mereka adalah:
1.      Khalid Mawardi (Jakarta)
2.      M. Said Budairy (Jakarta)
3.      M. Sobich Ubaid (Jakarta)
4.      Makmun Syukri (Bandung)
5.      Hilman (Bandung)
6.      Ismail Makki (Yogyakarta)
7.      Munsif Nakhrowi (Yogyakarta)
8.      Nuril Huda Suaidi (Surakarta)
9.      Laily Mansyur (Surakarta)
10.  Abd. Wahhab Jaelani (Semarang)
11.  Hizbulloh Huda (Surabaya)
12.  M. Kholid Narbuko (Malang)
13.  Ahmad Hussein (Makassar)
Kemudian dalam sebuah musyawarah selama tiga hari (14-16 April 1960) di Taman Pendidikan Putri Khadijah (Sekarang UNSURI) Surabaya. Dengan semangat membara, mereka membahas nama dan bentuk organisasi yang telah lama mereka idam-idamkan. Kemudian organisasi itu diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga organisasi serta memilih dan menetapkan sahabat Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum, M. Khalid Mawardi sebagai wakil ketua, dan M. Said Budairy sebagai sekretaris umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk menyusun kelengkapan kepengurusan PB PMII. Adapun PMII dideklarasikan secara resmi pada tanggal 17 April 1960 masehi atau bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal 1379 Hijriyah.

Setelah berdirinya, PMII harus mengakui dengan tetap berpegang teguh pada sikap Dependensi timbul berbagai pertimbangan menguntungkan atau tidak dalam bersikap dan berperilaku untuk sebuah kebebasan menentukan nasib sendiri. Oleh karena itu haruslah diakui, bahwa peristiwa besar dalam sejarah PMII adalah ketika dipergunakannya istilah Independent dalam deklarasi Murnajati tanggal 14 Juli 1972 di Malang dalam MUBES III PMII, seolah telah terjadi pembelahan diri anak ragil NU dari induknya. Sejauh pertimbangan-pertimbangan yang terekam dalam dokumen historis, sikap independensi itu tidak lebih dari dari proses pendewasaan.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai generasi muda bangsa yang ingin lebih eksis dimata masyarakat bangsanya. Ini terlihat jelas dari tiga butir pertimbangan yang melatar belakangi sikap independensi PMII tersebut. Pertama, PMII melihat pembangunan dan pembaharuan mutlak memerlukan insan-insan Indonesia yang berbudi luhur, taqwa kepada Allah SWT, berilmu dan cakap serta tanggung jawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat. Kedua, PMII selaku generasi muda indonesia sadar akan perannya untuk ikut serta bertanggungjawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secar merata oleh seluruh rakyat. Ketiga, bahwa perjuangan PMII yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan idealisme sesuai deklarasi tawangmangu, menuntut berkembangnya sifat-sifat kreatif, keterbukaan dalam sikap, dan pembinaan rasa tanggungjawab. Berdasarkan pertimbangan itulah, PMII menyatakan diri sebagai organisasi Independent, tidak terikat baik sikap maupun tindakan kepada siapapun, dan hanya komitmen terhadap perjuangan organisasi dan cita-cita perjuangan nasional yang berlandaskan Pancasila.

B.     Tujuan PMII
PMII bertujuan untuk mendidik kader-kader bangsa dan membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, terampil, cerdas dan siap mengamalkan ilmu pengetahuannya dengan penuh tanggung jawab. PMII dalam sejarahnya merupakan pelopor, pembaharu dan pengemban amanat intelektual dalam meningkatkan harkat martabat bangsa Indonesia.

C.     Makna Filosofis PMII
Nama PMII disusun dari empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”, dan “Indonesia”. Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada alam sekitarnya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi Ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya.

Pengertian “Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dinamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara. “Islam” yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah waljama’ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif.

Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized). Sedangkan pengertian “Indonesia” yang terkandung di dalam PMII adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta UUD 1945 dengan kesadaran kesatuan dan keutuhan bangsa dan negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang diikat dengan kesadaran wawasan nusantara.

Sebagai sebuah organisasi islam, PMII berpandangan bahwa nilai-nilai keislaman (religionitas) dan keindonesiaan (nation state) merupakan perwujudan kesadaran seagai insan muslim Indonesia. Sedangkan kerangka keagamaan berdasarkan atas nilai keadilan, kebenaran, toleransi, moderat dan kemanusiaan. PMII  dirancang sebagai organ/instrumen perubahan sosial (social change). Secara individual, PMII menawarkan Liberasi dari segala hegemoni dan dominasi ideologi, Ide maupun gagasan. Secara kelembagaan, PMII adalah barisan intelektual muda yang menawarkan beragam format gerakan mulai dari keislaman, kebudayaan pers, wacana, ekonomi, hingga gerakan massa. PMII cukup mewadahi pluralitas potensi, minat dan kecenderungan otentitas individu. Ingat, masuk menjadi anggota PMII harus dilatarbelakangi dengan sebuah kesadaran sosial dan bukan sekedar untuk membunuh waktu.
STATEMENT AKHIR TAHUN

STATEMENT AKHIR TAHUN



Persoalan kebangsaan yang melanda negeri ini sudah cukup memprihatinkan, hampir disemua aspek kehidupan berbangsa mengalami kemorosotan yang luar biasa. Banyak problem kebangsaan yang tidak mampu diselesaikan SBY-Boediono sebagai pemimpin bangsa. Hal ini, karena tidak adanya keberanian untuk mengatasi persoalan bangsa. Kondisi ini jelas membuktikan bahwa Negara telah gagal, benar apa adanya. Oleh karena itu, kami mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung, merasa sangat prihatin terhadap berbagai persoalan yang melanda bangsa ini dan dengan ini pula kami menyatakan bahwa:

Ubudiah

Ilmu

Aswaja